Perlukah Kita Mengembangkan Mobil Listrik Mewah

Kecelakaan Menteri BUMN Dahlan Iskan ketika mengetes mobil sport listrik berbuah kontroversi ketika sang pencipta Tucuxi yang belasan tahun berkarir di Amerika mengeluh kalau mobil ciptaannya yang masih prototype diutak-utik oleh tim Dahlan Iskan. Apakah ini pertanda buruk yang membuat para insinyur asal Indonesia di luar negeri jadi enggan berkarya di nusantara?

Ketika sedang mengetes Tucuxi, Dahlan Iskan mengalami kecelakaan di Plaosan, Magetan beberapa waktu lalu. Ketika itu, Dahlan mengatakan kalau rem mobil ini blong dan sistem transmisi yang tidak menggunakan gearbox pun dikatakan sebagai salah satu penyebabnya karena pengendara tidak bisa menggunakan gaya perlambatan dari engine brake ketika rem bermasalah.

Gaung seorang Dahlan Iskan yang mempunyai cita-cita untuk menciptakan mobil listrik sudah terkenal sejak dulu semenjak kemunculan Mobil Esemka ala Jokowi. Entah karena merasa tersaingi atau terpacu, mantan Direktur PLN ini tidak tanggung- tanggung dalam menciptakan ide baru. Tidak hanya sekedar mobil listrik, namun langsung meloncat ke mobil sport hingga sampai ke batas ekstrim setingkat Ferrari.

Jika Esemka Jokowi dibanderol seharga 100 jutaan, bahkan mungkin bisa ditawarkan dengan harga awal sekitar Rp. 70-90 jutaan nantinya, ‘Ferrari’ Dahlan Iskan akan dijual dengan harga minimal Rp, 1,5 milyar untuk tahap awal, sebelum kemungkinan akan mencapai angka 3 milyar. Angka yang cukup fantastis untuk ukuran mobil tenaga elektrik yang hingga kini masih belum ada kepastian mengenai infrastruktur bengkel ataupun bahan bakar untuk mobil sejenis ini.

Terlepas dari kontoversi mobil listrik, Mengenai Perlukah kita mengembangkan mobil listrik mewah? Menurut saya itu sah dan perlu juga selama itu merupakan hasil karya anak bangsa. Juga Pemerintah harus turut selalu membantu dalam memperjuangkan karya anak Bangsa sendiri.